Tampilkan postingan dengan label liga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Hernan Crespo Saat Di AC Milan Dan Golnya


Nama Hernan Crespo sudah tidak asing lagi bagi pecinta sepakbola era 90an dan 2000 awal. Dia adalah salah satu striker terbaik Argentina bertipikal striker murni. Di eropa dia mengawali karir di Parma. Setelah terbilang sukses di Parma dia di beli oleh Lazio tim yang baru saja menjuarai Liga Serie A Italia, bahkan dia sempat memegang rekor transfer saat itu sebelum dipecahkan oleh playmaker France Zinedine Zidane. Namun disaat itu pemilik klub Lazio mengalami kejatuhan financial dan terpaksa menjual para pemain bintangnya, tak terkecuali Crespo.


Akhirnya Inter Milan menjadi pelabuhan selanjutnya bagi Crespo, dia menggantikan Ronaldo Brazil yang hengkang ke Real Madrid serta mewarisi nomer jersey nya juga. Tak bertahan lama di Inter, klub Inggris yang sedang membangun tim besar dengan pemilik baru Roman Abrahamovic yakni Chelsea menginginkan jasanya di Stamford Bridge. Lewat pelatih Claudio Ranieri Chelsea berusaha mendatangkanya. Sesungguhnya Crespo sudah betah di ranah Italia namun petinggi Inter sudah memutuskan dia akan di jual.




Jadilah Chelsea tim selanjutnya bagi Crespo. Kultur di Britania nampaknya tidak cocok untuk seorang Crespo dia tidak bisa mengeluarkan performa terbaiknya. Lalu terjadi pergantian pelatih di tubuh Chelsea, Claudio Ranieri digantikan pelatih yang baru saja sukses mengantar Porto sebuah klub di Portugal meraih kesuksesan luar biasa salah satunya menjuarai Liga Champions, dia adalah Jose Mourinho. Nampaknya pemilik Chelsea serius dengan berambisi menjadikan klubnya menjadi tim yang bersaing dengan tim-tim besar lain. Dana besar dia sediakan untuk membangun Chelsea dengan cara mendatangkan banyak pemain berkelas yang dibutuhkan Mourinho, salah satunya penyerang asal Pantai Gading Didier Drogba dari Marseille. Karena sama-sama berposisi striker utama maka Mourinho memberitahu Crespo supaya dia bisa beradaptasi dengan pemain baru yang mungkin akan saling bergantian di mainkan. Namun disaat itu datang tawaran dari Italia, dari AC Milan pelatih Carlo Ancelotti menginginkan peran Crespo karena salah satu striker mereka Filippo Inzaghi dilanda cedera panjang.







Crespo pun di pinjam untuk semusim dan kali ini membela Milan rival mantan klubnya dulu Internazionale. Di sini dia menemukan bentuk permainanya kembali. Gol demi gol lahir dari kaki dan kepalanya. Performa Milan pun juga menanjak sejak kehadiranya, duetnya bersama penyerang Ukraina Andriy Shevchenko menjadikan lawan tidak bisa tenang karena bahaya yang selalu mengancam meraka. Selain itu karena Milan saat itu diisi oleh pemain-pemain hebat lainnya antara lain Kiper Nelson Dida, Bek tengah Nesta dan Stam, bek sayap Cafu dan Maldini dilini tengah ada nama semacam Clerence Seedorf, Ricardo Kaka, Manuel Rui Costa, Genaro Gattuso, dan Andrea Pirlo tim ini menjelma menjadi tim yang begitu kuat mungkin yang paling kuat yang pernah aku lihat karena keseimbangannya mulai dari lini belakang yang tangguh, lini tengah yang dihuni pemain berkelas, dan striker mautnya.





Di Liga Champions Crespo memegang peranan penting bagi Milan dalam mencapai Final, sebelum melawan Liverpool Milan harus menjalani pertandingan tak kalah bergengsi melawan tim England lainya yaitu si Iblis Merah Manchester United tanpa striker andalan mereka Sheva. Namun Ancelotti bukanlah pelatih semenjana, dia pelatih yang bagus. Milan memainkan formasi satu penyerang dialah Crespo yang merupakan pemain pinjaman, hasilnya? Sungguh tepat strategi dari Don Carletto kepercayaan yang ia berikan tidak disia-siakan. Crespo menunjukkan kelasnya sebagai pembeda di dua laga yang harus dilalui.





Laga pertama di Old Trafford kedua tim bermain menyerang dan sama-sama kuat, sampai pada saat Crespo mencuri gol kemenangan. Berawal dari sepakan keras Seedorf bola tak mampu ditangkap sempurna oleh kiper MU dilaga itu Casey Carrol, bola liar sesegara diperebutkan oleh Carrol dan Crespo yang datang dari garis pertahanan MU, celakanya Crespo lebih cepat dan berhasil menceploskan bola ke gawang MU. Salah satu kelebihan Crespo dia bisa membaca arah bola, positioning dia sangat baik, dan respon dia juga lebih cepat dibanding pemain belakang lawan.











Laga kedua di San Siro pun tak kalah seru, keduanya masih sama-sama menyerang demi bisa mencetak gol secepat mungkin, pertandingan juga terlihat sama-sama kuat. Namun lagi-lagi Crespo keluar sebagai protagonis melawan tim besutan Fergie itu yang dihuni Cristiano Ronaldo, Rooney, Nistelrooy, Giggs, Scholes, Roy Keane, Ferdinand, Gary Neville. Berawal saat Milan menguasi bola disisi pertahanan mereka Nesta melihat posisi Cafu yang bebas disisi depan kanan dan dia langsung memberi umpan jauh yang terukur, sebentar menguasai bola Cafu langsung mengirim Crossing ke depan gawang MU disana ada Crespo yang dijaga Ferdinand. Ferdinand tak bisa menjangkau bola yang terlalu tinggi itu namun Crespo mampu melompat untuk menyambut umpan yang ditujukkan kepadanya itu dan Boom!!! Dengan cedik Crespo mengarahkan bola ke tiang jauh sebelah kanan tanpa bisa di cegah kiper MU di pertandingan itu Tim Howard. Gol semacam itu juga menjadi satu kelebihan Crespo yaitu duel udara dan sendulan mematikan. MU pun dipastikan tersingkir dan Milan yang berhak lolos dengan agregat 2-0 berkat Crespo. Beruntung juga Milan meminjamnya saat itu dari Chelsea.








Kemudian final melawan Liverpool semua orang sudah mengetahui hasilnya. Sesungguhnya Milan bisa juara saat itu namun keberuntungan belum berpihak dengan meraka. Unggul 3-0 di babak pertama bahkan Crespo mencatatkan dua gol di laga final, jarang ada pemain yang bisa melakukan itu seingatku hanya Inzaghi (2007) dari Milan dan Millito (2010) dari Inter yang bisa menyamainya. Gol pertama ia memanfaatkan assist Sheva melalui situasi serangan balik, sekali lagi dia terbantu karena positioning dia yang baik. Gol kedua juga dari serangan balik dari pertahanan Milan Kaka mengirim umpan direct ke pertahanan Liverpool yang gagal dihentikan bek, disana bola diperebutkan oleh Crespo dan Dudek yang maju ingin menjemput bola. Namun tampaknya Crespo lebih cepat dan tanpa control Crespo langsung men-chip bola melewati Dudek, sungguh finishing yang berkelas, brilliant, dan cantik dari seorang penyerang hebat. Namun sayang 2 gol itu tak mampu memenagkan Milan. Dibabak kedua semua berubah Liverpool bangkit dan sanggup menyamakan kedudukan menjadi 3-3, Crespo sendiri diganti jelang akhir laga normal dengan penyerang John Dahl Tommasen. Pada akhirnya Milan kalah adu pinalti, Dudek menjadi pahlawan berkat penyelamatan pinalti dari Pirlo dan Sheva. Kejadian itu sangat memukul seluruh pemain Milan tak terkecuali Crespo sendiri, dia hampir tidak percaya semua itu terjadi. Mentalnya pun jatuh dan sempat ingin pensiun dini namun akhirnya urung terjadi.











Setelah final itu, dia tidak dipermanenkan oleh Milan, dia kembali ke klubnya dari masa peminjaman. Berikut pernyataan dia yang membuka kisah sebenarnya dulu : “Waktuku di Milan cukup sulit. Aku datang dari Chelsea dan harus beradaptasi dengan sepak bola Italia lagi. Kemudian aku mulai mencetak gol lagi dan kami mampu mencapai babak akhir di semua kompetisi," kata Crespo jelang pertandingan Parma melawan Milan, Rabu (24/3/2010). Mantan pemain Inter Milan itu sedih karena harus meninggalkan "I Rossoneri" dan kembali ke Chelsea. "Kurang lebih seperti itu (sedih). Ketika Anda bermain di tim sebesar Milan, pikiran terakhir yang ada di kepala Anda adalah hengkang ke klub lain. Setelah melalui musim fantastis dengan 18 gol, dua gol di antaranya di final Liga Champions, aku pikir aku akan tinggal. Milan pun berpikiran sama," ujar Crespo. "Namun, (pemilik Chelsea Roman) Abramovich tidak mengizinkannya. Ia menginginkanku kembali ke Chelsea. Kenyataannya mereka tak bisa membiarkanku tinggal di Milan setelah aku mencetak gol di final Liga Champions dan ke gawang Brasil," ungkap pemain 34 tahun tersebut.(*)




Dan satu lagi : “Saya berhasil bermain untuk Milan, tim yang saya cintai. Tapi, hanya untuk satu tahun karena final Liga Champions kami kalah," ujar Crespo kepada La Gazzetta dello Sport, dilansir Forza Italian Football, Jumat (12/9). Menurut dia, kepergiannya memperkuat Inter sangat disesalkan Wakil Presiden Adriano Galliani. Dengan jujur, kata Crespo, Galliani mengaku beberapa kali telah membuat kesalahan tidak mempertahankannya. "Saya kecewa tentang keputusan itu karena saya tidak bisa membalas dendam melawan Liverpool pada tahun 2007. (Alessandro) Nesta, (Andrea) Pirlo, (Gennaro) Gattuso, (Cristian) Brocchi, dan (pelatih Carlo) Ancelotti, 'Saya menerima pesan dari beberapa pemain Milan' setelah menang Liga Champions pada tahun 2007."Mereka menulis bahwa trofi CL juga adalah milikku -.  Dan berpikir bahwa saya bermain untuk Inter pada waktu itu saya tidak akan melupakan itu."







Jika dilihat-lihat dari beberapa gol yang dibuat oleh Crespo seolah-olah bola itu menghampiri dirinya. Dia pandai mencari ruang dan posisi untuk mencari arah bola dan secepat mungkin memanfaatkannya dibanding pemain lain. Karena tipikal dia adalah striker murni yaitu tugas dia mencetak gol dan menunggu bola, Crespo bukan tipe penyerang dengan kecepatan ataupun dribble menawan, meskipun begitu dia punya respon yang cepat terhadap bola. Selain itu dia memiliki teknik yang lumayan cukup baik untuk seorang penyerang, finishing dia juga bagus dia sering mencetak gol lewat kaki kanan kadang kaki kirinya sama baiknya dan juga dia ahli duel udara tak jarang dia mampu membobol gawang lawan dengan kemapuan sendulanya yang sangat baik dari berbagai situasi dia sanggup menjadikan bola itu mengarah deras ke gawang lawan.







Dia berbeda dari Ronaldo Brazil yang punya dribble hebat dalam melewati pemain lawan, atau Del Piero yang punya teknik yang lebih baik dari dia dan juga ahli tendangan bebas, atau Henry dan Sheva yang memiliki kecepatan dalam melewati lawan. Dia hanyalah striker murni yang menunggu bola dan memanfaatkanya, striker yang memiliki tipikal seperti dia ada beberapa seperti Miroslav Klose, Raul Gonzales, David Trezeguet, Christian Vieri, Fernando Morientes, Didier Drogba. Namun sekarang hanya tersisa beberapa antara lain Robert Lewandowski, Edin Dzeko, Andy Carrol, Fernando Llorente, Karim Benzema.

























Kisah seorang Hernan Crespo di AC Milan adalah kisah yang menyedihkan dan mungkin terlupakan, lewat tulisan ini aku berharap kisah ini akan dikenang kembali dan untuk sekedar mengingat dalam hidup itu ada masa-masa sulit yang bisa hadir tanpa diinginkan seperti yang dialami Crespo. Terimakasih atas gol-gol yang kau berikan selama berseragam Milan Valdanito, Grazie Hernan! Vamos La Albiceleste








Jumat, 25 Desember 2015

Pengakuan Crespo Tentang Final Liga Champions Di Istanbul (Musim 2004/2005)



Final Istanbul, siapapun tidak akan melupakan
momen paling dramatis dalam sejarah final
Liga Champions tersebut, bagaimana tidak,
Milan yang pada babak pertama sudah
menghajar Liverpool dengan skor 3-0 justru
mampu disamakan di babak kedua oleh
Liverpool dengan skor 3-3, lebih dramatis lagi
ketika AC Milan kalah dalam adu penalti.
Mimpi untuk membawa gelar ketujuh trofi si
kuping lebar musnah, beruntung 2 tahun
kemudian mereka mampu membalas kekalahan
menyakitkan tersebut dengan skor 2-1 di Final
Liga Champions di Athens Yunani dengan
lawan yang sama, Liverpool.
Masih banyak orang yang penasaran dengan
apa yang sebenarnya terjadi di ruang ganti
Milan pada jeda babak pertama tersebut
sehinggga pada babak kedua mereka
melempem dan dipaksa menyerah oleh
Liverpool. Beredar rumor bahwa skuad Milan
saat itu sudah merayakan pesta juara di ruang
ganti karena mereka sudah unggul telak 3-0 di
babak pertama.
Namun kabar tersebut dibantah Hernan Crespo
yang merupakan bagian dari skuad Milan pada
saat itu, berikut ini petikan wawancara
eksklusif dengan Crespo :
Crespo: "Saya rasa laga tersebut adalah
bagian dari keindahan sepakbola, pertandingan
itu adalah bagian dari takdir, dari hal-hal yang
tidak bisa dijelaskan.. sejujurnya, bahkan
sampai hari ini saya masih tidak percaya kami
kalah pada laga itu."
Crespo: "Bagi saya berada bermain di final Liga
Champions untuk Milan adalah pengalaman
terbaik yang bisa saya bayangkan, saya
tumbuh menyaksikan tim besar seperti Milan
dengan pemain Belandanya, aku merasa
seperti saya tinggal mimpi.."
Crespo: "Saya memulainya dengan mencetak
dua gol dan yang lainnya dicetak oleh legenda
seperti Paolo Maldini, itu adalah salah satu
malam-malam di mana Anda dapat melakukan
segala sesuatu dengan mudah, semuanya
bekerja sesuai keinginan Anda."
Crespo: "Tidak ada pesta di ruang ganti [Pada
HT], cerita-cerita itu hanya gosip. Karena di
Milan kami memiliki pemain seperti Nesta,
Maldini, Pirlo, Gattuso, Seedorf, Shevchenko,
apakah Anda pikir mereka akan merayakan
setelah 45 menit? Justru sebaliknya!"
Crespo: "Ada beberapa dari mereka yang
membahas bagaimana kita tetap harus
bermain lebih baik, meskipun fakta kami sudah
mengalahkan Liverpool 3-0 di babak pertama.
Carlo [Ancelotti] pun tidak memberi kami
petunjuk khusus. Dia ingin kami untuk tetap
tenang, ia ingin memastikan kami tidak puas."
Crespo: "Kami tidak punya waktu [Dalam 6
menit di mana Milan kebobolan dalam 3 gol]
untuk berbicara satu sama lain, percayalah.
Benitez mengubah pertandingan dengan
bergerak: Didi Hamann datang di depan
pertahanan untuk menutupi pertahanan dan
membebaskan Steven Gerrard. Perubahan itu

menempatkan kami dalam situasi yang sangat
sulit Dan kemudian sesuatu yang hanya takdir
bisa mengendalikan terjadi."
Crespo: "Karena dipimpin gol Gerrard, Smicer
dengan tembakan yang kuat, dan kemudian
pinalti yang pertama kali diselamatkan Dida tapi
kemudian dtuntaskan oleh Alonso.Saya tidak akan
pernah lupa Dudek menyelamatkan gawangnya
dari upaya Shevchenko untuk mencetak gol,
sesuatu yang luar biasa. Saya percaya bahwa
Jerzy Dudek sampai hari ini masih tidak tahu
bagaimana ia menghentikan tembakan
Shevchenko kala itu."
Crespo: "Ketika Liverpool mencetak gol penalti
terakhir saya berkata pada diri sendiri "Tidak,
itu tidak benar bahwa saya akan pergi dan
mandi tanpa memenangi Liga Champions
ketika kami sudah unggul 3-0."
Crespo: ". Jadi saya duduk di belakang
fotografer, saya harus melihat dengan mata
saya sendiri bahwa Gerrard benar-benar akan
mengangkat trofi. Aku masih tidak bisa
percaya, itu tidak tampak nyata Mustahil
bahwa Gerrard lah yang akhirnya mengangkat
trofi. Dan ketika Steven akhirnya
mengangkatnya, saya berpikir " Jadi itu benar-
benar terjadi " lalu kemudian saya pergi ke
ruang ganti tanpa bisa bicara sepatah
katapun."
Crespo: "Bagaimana suasana di ruang ganti
setelah itu? Sederhana: seperti pemakaman."
Crespo: "Itu adalah saat yang sangat sulit,
bahkan tidak ada yang bisa berbicara ketika
kami kembali ke hotel. Beberapa rekan-rekan
menangis, yang lainnya memeluk istri dan
anak-anaknya, percayalah, itu adalah malam
yang sangat sulit."
***
Mantan striker
Parma, Hernan Crespo, mengaku sulit melupakan
kenangan manisnya bersama AC Milan. Crespo
mengungkapkan bahwa bermain bersama "I
Rossoneri" merupakan masa terbaik dalam
kariernya.
Crespo bergabung bersama Milan pada musim
2004/2005 setelah dipinjam dari Chelsea. Meski
hanya semusim, pemain asal Argentina itu tampil
gemilang dengan membawa Milan ke final Liga
Champions melawan Liverpool. Mantan pemain
Inter Milan itu juga sukses membuat dua gol di
pertandingan tersebut.
"Waktuku di Milan cukup sulit. Aku datang dari
Chelsea dan harus beradaptasi dengan sepak bola
Italia lagi. Kemudian aku mulai mencetak gol lagi
dan kami mampu mencapai babak akhir di semua
kompetisi," kata Crespo jelang pertandingan
Parma melawan Milan, Rabu (24/3/2010).
Mantan pemain Inter Milan itu sedih karena harus
meninggalkan "I Rossoneri" dan kembali ke
Chelsea. "Kurang lebih seperti itu (sedih). Ketika
Anda bermain di tim sebesar Milan, pikiran
terakhir yang ada di kepala Anda adalah
hengkang ke klub lain. Setelah melalui musim
fantastis dengan 18 gol, dua gol di antaranya di
final Liga Champions, aku pikir aku akan tinggal.
Milan pun berpikiran sama," ujar Crespo.





"Namun, (pemilik Chelsea Roman) Abramovich
tidak mengizinkannya. Ia menginginkanku kembali
ke Chelsea. Kenyataannya mereka tak bisa
membiarkanku tinggal di Milan setelah aku
mencetak gol di final Liga Champions dan ke
gawang Brasil," ungkap pemain 34 tahun
tersebut.(*)









***
Mantan penyerang
AC Milan Hernan Crespo akan senang bermain
untuk Rossoneri di kala mereka menang Liga
Champions 2007 melawan Liverpool. Pelatih
Parma Primavera tersebut mencetak dua gol saat
Milan kalah adu penalti dari Liverpool di final Liga
Champions 2005.
Namun, ketika Milan sanggup membalas dendam
dua tahun kemudian, ia sudah berganti kostum
membela Inter Milan. "Saya berhasil bermain
untuk Milan, tim yang saya cintai. Tapi, hanya
untuk satu tahun karena final Liga Champions
kami kalah," ujar Crespo kepada La Gazzetta dello
Sport, dilansir Forza Italian Football, Jumat
(12/9).
Menurut dia, kepergiannya memperkuat Inter
sangat disesalkan Wakil Presiden Adriano Galliani.
Dengan jujur, kata Crespo, Galliani mengaku
beberapa kali telah membuat kesalahan tidak
mempertahankannya.
"Saya kecewa tentang keputusan itu karena saya
tidak bisa membalas dendam melawan Liverpool
pada tahun 2007. (Alessandro) Nesta, (Andrea)
Pirlo, (Gennaro) Gattuso, (Cristian) Brocchi, dan
(pelatih Carlo) Ancelotti, 'Saya menerima pesan
dari beberapa pemain Milan' setelah menang Liga
Champions pada tahun 2007."



 
"Mereka menulis bahwa trofi CL juga adalah
milikku -. Dan berpikir bahwa saya bermain untuk
Inter pada waktu itu saya tidak akan melupakan
itu."
Crespo: "Stam dan saya seharusnya menjadi
bagian dari staf Seedorf di Milan. Tapi kemudian

dia meneleponku dan mengatakan bahwa
kesepakatan itu sangat sulit tercapai







***  
#Dikutip dari berbagai sumber