Kemarin, legenda Inter, Hernan
Crespo menjadi tamu dalam acara Inter
Legends yang tayang di Inter Channel.
Berikut apa saja yang disampaikan oleh Crespo:
Saat di River Plate:
“Saya mulai bermain sejak umur 6 tahun hingga 10 tahun,
namun pada usia 10 hingga 16 tahun, saya lebih sering duduk dibangku cadangan,
saya menjadi pemain ke 12. Namun di musim berikutnya, pelatih memberikan
kepercayaan kepada saya dan saya memainkan 21 laga dengan torehan 23 gol,
jumlah yang cukup banyak untuk pemain berumur 17 tahun. Mulai sejak saat itu,
petualangan saya dimulai, hingga akhirnya memenangkan Copa Libertadores tahun
1996.”
Saat di Parma:
“Saya setuju bergabung dengan Parma sebelum Copa Libertadores dimulai. Mereka melihat saya
saat pra Olimpiade dan kami langsung menentukan harga saat itu. Tidak ada
orang di River yang membayangkan jika saya
‘meledak’ pada tahun itu. Saya menjadi pencetak gol terbanyak di
Libertadores, Olimpuade dan bahkan mengalahkan Ronaldo. Bahkan presiden
Argentina berkata, Anda tidak bisa menjual Crespo dengan harga segitu.”
Tentang Ronaldo:
“Tidak ada perbandingan dengannya. Ronaldo jauh berubah.
Ronaldo adalah Ronaldo dan kami memiliki perbedaan dari berbagai hal. Ia
sungguh fenomenal. Ia memiliki kecepatan serta drible nya sungguh
mengerikan.”
Saat di Lazio:
“Musim pertama di Lazio
bersama Eriksson sungguh sulit. Kami saat
itu berstatus sebagai juara bertahan dan mungkin kami sedikit santai. Kemudian
Eriksson memutuskan hengkang untuk melatih
Inggris. Kemudian pihak klub mendatangkan Poborsky
dan mengangkat Zola sebagai pelatih dan tim
mulai menanjak.”
Hengkang ke Inter:
“Lazio mengalami masalah dengan keuangan klub dan harus
memaksa mereka melepas para pemainnya. Nedved,
Veron, Mendieta dan De La Pena hengkang. Mencari pengganti para pemain
ini sangat sulit. Dan kemudian dilanjutkan dengan kepindahan saya ke Inter dan Nesta ke
Milan. Saya masih ingat kepindahan saya ke Inter, dimana semua
bergantung kepada nasib Ronaldo, jika ia pindah ke Madrid, saya akan pindah ke Inter, namun jika Ronaldo
bertahan, saya yang akan pindah ke Madrid.”
Tentang Vieri:
“Dia adalah sosok yang luar biasa. Ketika bergabung dengan
Inter membuat saya merasa seperti di rumah sendiri. Ketika Anda berjalan ke
ruang ganti dan melihat ada sosok penyerang hebat seperti Vieri akan otomatis membuat Anda merasa dia adalah
seorang primadona. Hal yang sama yang saya alami di Chelsea
ketika diperkuat Drogba dan Shevchenko. Saya banyak belajar dari Bobo, salah satunya dalam hal menyundul
bola yang membuat saya semakin kuat dalam duel udara. Sebelumnya saya
sangat jarang melakukannya. Selalu mempelajari hal baru membuat Anda semakin
berkembang dan bertambah kuat.”
Cedera:
“Ketika menghadapi Modena, saya mengalami cedera. Saya
menghabiskan tiga bulan untuk menyembuhkan cedera itu, rekor cedera terpanjang
saya. Saya merasa karir saya berakhir kala itu. Saya berkata kepada Cuper waktu menghadapi Modena jika saya sudah
tidak kuat lagi untuk menendang karena kaki saya sangat sakit rasanya. Saya
masih bisa berlari, namun ketika melakukan tendangan, rasanya sakit luar biasa,
seperti Anda di operasi tapi tanpa diberi bius.”
Derby Milano di Eropa :
“Kami kala itu bermain tanpa diperkuat Bobo. Walaupun kami memiliki Recoba, namun Bobo
adalah sosok yang berbeda dan penting, namun inilah sepakbola. Kami
mengalami kekalahan di laga pertama dan memaksakan hasil imbang di laga kedua semi final Liga Champions.”
Saat di Chelsea:
“Itu adalah masa yang sulit. Saya tidak ingin
meninggalkan Inter, mungkin saya akan
memilih lari sambil menangis karena saya tidak ingin meninggalkan tim ini.
Kasih sayang yang saya terima dari para fans sungguh luar biasa. Saya belum
memberikan yang terbaik untuk tim ini. Selalu finish dibawah Juventus
membuat saya terganggu. Saya memimpikan meraih Scudetto di Italia. Tapi
para petinggi Inter sudah memutuskan dan saya harus menerimanya.”
Saat di AC Milan:
“Sepakbola membuat Anda tersenyum. Saya membawa teman saya
yang seorang Interista ke Istanbul untuk
menyaksikan laga Milan – Liverpool. Namun yang
terjadi seminggu kemudian adalah saya menjadi bahan olokan. Inter kala itu bermain di laga final Copa Italia. Teman saya itu ada di Curva Inter di San Siro dan mereka mulai bernyayi
tentang apa yang menimpa kami (Milan) di Istanbul. Istanbul adalah mimpi
buruk saya.”
Mengenai Mourinho:
“Saya mengenal Jose dan
ia berkata ketika saya di Chelsea jika: Anda
adalah seorang penyerang tengah dan ada Didier
Drogba yang akan datang, jadi Anda harus bisa beradaptasi. Kemudian saya
berkata kepadanya jika Ancelotti
menginginkan saya di Milan dan saya kemudian
hengkang ke Milan dan mereka mendatangkan Kezman. Kemudian saya kembali ke Chelsea usai final Liga Champions di Istanbul dan mereka
sudah berubah menjadi tim yang luar biasa. Musim itu kami mampu keluar
sebagai juara dan kami berhasil meraih 95 poin di akhir musim. Sebenarnya
kami bisa meraih 100 poin, namun dua laga terakhir kami tidak melakukan
persiapan dengan baik karena banyak pemain yang lebih mempersiapkan diri mereka
untuk piala dunia.”
Gol ke 200:
“Mencetak 200 gol dalam karir adalah sesuatu kebanggaan
tersendiri bagi saya. Gol pertama saya dicetak ke gawang Inter ketika saya
masih bermain untuk Parma, dan gol ke 200 saya di cetak ke gawang Parma.
Itu merupakan catatan yang luar biasa. Di akhir musim 2006-2007, kami berhasil
merengkuh Scudetto, yang merupakan Scudetto pertama yang kami raih dilapangan
dalam beberapa tahun terakhir. Para fans harus menikmati momen ini.”
Kembali ke Parma:
“Saat itu, saya berkesempatan berlaga di Europa bersama
Genoa, namun kemudian Parma datang ingin membawa pulang. Ini adalah bentuk
cinta mereka kepada saya. Saya baik-baik saja secara mental, namun secara
fisik saya mulai lelah. Saya mencoba memberikan yang terbaik disana, di
sisa karir saya. Saya bertarung untuk menghindarkan mereka dari degradasi. Saya
sangat bangga atas apa yang saya lakukan.”
Source: FCInter1908.it
#dikutip dari nerazzuriale.com



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar