Dia tinggi, wajahnya selalu murung ketika memasuki
lapangan menjelang pertandingan, banyak pihak yang mengkritik gaya bermainya
yang lambat dan malas bergerak. Namun ketika bola sudah berada dalam
penguasaanya akan sulit untuk pemain lawan merebutnya. Dia membungkam para
pengkritik dengan aksi-aksi menawan dan juga umpan-umpan dekat maupun jauh
dengan presisi dan keakuratan tinggi. Tak jarang dia juga membuat
gerakan-gerakan yang membuat penonton berdecak kagum dengan teknik yang dia
miliki. Konon gerakan itu tidak diajarkan disekolah sepakbola manapun ataupun
di sekolah sihir. Dia mempelajarinya sendiri di jalan-jalan di tanah
kelahiranya sejak masih kecil (sampai sini lupa artikelnya aku cari lagi gak
ketemu-ketemu :ngakaks: )
Dia adalah Juan Roman Riquelme
( bacanya Huan Roman Riqelme! ) banyak yang ingin kutulis mengenai dirinya. Berposisi
sebagai pemain tengah dia berperan sebagai playmaker. Bukan sembarang playmaker
dia adalah seorang playmaker classic no.10 yang terakhir mungkin, karena
setelah dia tidak ada lagi pemain bertipikal seperti dia. Dulu di era 80-90an
banyak playmaker klasik terlahir seperti Maradona, Roberto Baggio, Michel Platini, Ruud Gullit, Lothar
Matheaus, Enzo Francescoli, Valderama, George Hagi dan tentu saja Zinedine
Zidane. Mereka bermain lebih mengandalkan teknik tinggi dan kecerdasan,
visi yang baik, drible mumpuni, operan-operan yang jitu dan kemampuan mencetak
gol yang harus baik juga, serta sebagai free kick ataupun set-piece taker yaitu
pengambil tendangan pada situasi dead ball/bola mati.
Pun Riquelme dia memiliki itu
semua juga, para kalangan menyebut Riquelme semestinya bermain di era 90an dan
dia sanggup menjadi pemain terbaik dunia setiap tahunnya, karena di era modern
sekarang ini peran playmaker classic sudah ditinggalkan. Pelatih revolusioner semacam Van
Gaal, Mourinho, Marcelo Bielsa dan Pep Guardiola sudah pasti tak akan
membutuhkan pemain semacam Riquelme. Karna mereka lebih memilih pemain yang
banyak bergerak sedangkan Riquelme adalah pemain yang hanya menunggu bola diberikan
kepadanya, serta tidak berkewajiban membantu pertahanan. Dia tersisihkan dan
terbuang dari petualangannya di Eropa karena iklim sepak bola yang berubah,
para pelatih tidak meminati lagi jasa playmaker klasik dan memang hanya tersisa
dia saja setelah Zinedine Zidane.
Bersama Boca Jr ia meraih berbagai presatasi apertura clausura liga Argentina, hingga membawa
Boca Jr menjuarai Copa Libertadores dan
bertarung di Piala Intercontinental melawan Juara Liga Champions Eropa Real Madrid. Boca Jr pun
memenangi kejuaraan tersebut dengan skor 1-0 berkat Martin
Palermo dan Riquelme, bayangkan tim dari Argentina yang hanya bermaterikan
pemain lokal saja sanggup mengalahkan kekuatan tim eropa dengan dukungan
pemain-pemain terbaik dari berbagai Negara? Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Di tahun berikutnya Boca berhasil menjuarai Copa Libertadores lagi namun sayang
mereka kalah di Piala Intercontinental melawan Bayern
Munchen. Tak banyak tim yang mampu ke final Piala Intercontinental
berturut-turut.
Usai kegemilanganya bersama
Boca klub Spanyol Barcelona kepincut merekrut
pemain berjuluk “si penyihir malas” ini pada musim 2002/03. Namun pelatih Barca
saat itu van Gaal
menyebut pembelian Riquelme sebagai bagian dari politik. Sang meneer kurang
sreg dengan gaya main riquelme yang klasik. Dia jarang menurunkan Riquelme
sebagai starter, sekali dimainkan Riquelme diposisikan menjadi winger, posisi
yang sangat asing baginya. Mungkin sang meneer ingin dia lebih banyak bergerak
dan berlari dengan memplot dia sebagai sayap. Bermain bukan pada posisinya
membuat Riquelme tidak berkembang.
Di timnas Argentina
pelatih saat itu Marcelo
Bielsa meninggalkanya untuk berlaga di pentas Piala
Dunia 2002 Korea-Japan yang seharusnya menjadi Piala Dunia pertama bagi
Riquelme. Bielsa kurang menyukai gaya bermainya yang lambat dan lebih memilih
playmaker Lazio Juan Sebastian Veron, Argentina akhirnya gagal total di
turnamen itu karena tidak lolos dari fase grup yang merupakan prestasi
terburuk.
Setelah itu Riquelme
dipinjamkan ke Villareal mulai musim 2003 dan
disini Riquelme mulai menemulkan bentuk permainanya dibawah asuhan pelatih Manuel Pelegrini yang berasal dari Chile serta
pemain-pemain yang berasal dari Amerika Selatan seperti Diego Forlan dari Uruguay dan kompatriotnya sendiri Juan Pablo Sorin
dari Argentina membuat adaptasi di Villareal
menjadi mudah. Bersama tim ini Riquelme sanggup memberikan 2 trofi Piala
Intertoto ( turnamen tingkat 3 setelah Liga Champions dan UEFA Cup). Dan
puncaknya membawa Villareal ke fase
Perempat-final Liga Champions setelah menyingkirkan Manchester
United dan Inter Milan, namun
terhenti melawan Arsenal dimana dia gagal
mengeksekusi hukuman pinalti yang berpeluang membawa Villareal
ke final melawan Barcelona (mantan
timnya),
di musim 2005/06.
Pada turnamen internasional
selanjutnya Argentina memiliki nahkoda baru, dialah Jose
Pakerman. Sosok yang tidak asing bagi Riquelme, dialah pelatih tim muda
Argentina U-20 yang menjuarai Piala Dunia U-20 di
Malaysia dan Riquelme menjadi bagian bersama Walter
Samuel, Esteban Cambiasso dll. Yang pertama Copa
America 2004 Argentina sampai difinal namun dikalahkan Brazil lewat adu pinalti 4-2 skor saat pertandingan
normal 2-2. Kemudian pada piala Konfederasi 2005
mereka bertemu lagi di final, lagi-lagi Riquelme harus menaggung malu karena
dikalahkan Ronaldinho cs dengan skor mencolok
4-1. Memang Skuad Argentina kala itu masih kurang pemain top dibanding Brazil
yang saat itu masih dihuni generasi emas seperti Ronaldinho,
Dida, Lucio, Gilberto Silva, Ze Roberto, Roberto Carlos, Cafu, Adriano, Ronaldo
yang semua bermain di tim Elit eropa.
Selanjutnya
Piala Dunia 2006 akhirnya menjadi Piala Dunia pertama dan terakhir Riquelme
karena setelah ini Riquelme bermasalah dengan pelatih tim tango seperti di
Piala Dunia 2010 dia berseteru dengan Maradona, dan di Piala Dunia 2014 dia
tidak dipanggil oleh pelatih Alejandro Sabella. Sayang sebenarnya melewatkan
talenta langka milik Riquelme. Di Piala Dunia Germany Riquelme hanya sanggup
membawa Argentina ke fase pererempat final saat menghadapi tuan rumah Jerman. Dengan formasi
andalan 4-4-2 (4-1-3-2) ala Perkerman Argentina sebenarnya mampu unggul
dahulu lewat gol dari pemain belakang Roberto Ayala
memanfaatkan Corner Kick Riquelme dari sisi
kanan lapangan 1-0 bertahan hingga menit 78. Suatu blunder yang dilakukan
Pekerman dengan menarik Riquelme disaat tim masih unggul diganti dengan
cambiasso pemain yang lebih bertahan mungkin maksud Pekermen untuk
mempertahankan keunggulan namun berakhir fatal.
Dan 8 menit setelah Riquelme
ditarik Jerman berhasil menyamakan kedudukan lewat sendulan Miroslav Klose pada menit 79. Praktis Argentina
hanya mampu main bertahan karena tidak ada pemain yang mendistribusikan bola
sebaik Riquelme, kreativitasnya mati. Selain itu Pekerman juga tidak menurunkan
pemain belia Lionel Messi, mungkin bila
Riquelme tidak ditarik dan Pekerman memasukkan Messi hasil akhir berpihak pada
Argentina. Akhirnya Argentina kalah setelah adu pinalti namun banyak
kontroversi dan kecurangan di laga itu mengingat Jerman adalah tuan rumah. Kiprah
Riquelme harus terhenti disitu.
Banyak kalangan menilai Piala Dunia ini adalah penampilan
terbaik Argentina selama berkiprah di turnamen tersebut mengalahkan penampilan
di Piala Dunia 1986 ketika mereka juara. Argentina dibawah Pekerman dan
Riquelme memainkan gaya bermain yang taktis dan sangat enak dilihat dengan
skema serangan yang bertumpu pada Riquelme yang sanggup memainkan tempo
pertandingan, dia bisa bermain dengan cepat ketika menerima umpan dan mengoper
secara akurat baik umpan pendek maupun umpan atas jauh. Selain itu Riquelme
juga menjadi Top Assist di turnamen tersebut mengalahkan playmaker Brazil
Ronaldinho dan playmaker France Zinedine Zidane dgn catatan 6 assist.

Setelah
piala dunia karirnya di Villareal bukan
bertambah baik malah menjadi buruk. Dia jarang dimainkan lagi, isu yang beredar
Riquelme bersitegang dengan pelatih Manuel Pellegrini karena menuntut kebebasan
dan meminta perlakuan istimewa.
Akhirnya di musim 2007 dia dipinjamkan ke klub
yang membesarkan namanya Boca Jr untuk
setengah musim. Di klub ini Riquelme kembali bangkit dan sekali lagi
menunjukkan kelasnya sebagai playmaker jempolan. Di tanah kelahiranya masih
banyak klub yang memainkan peran playamaker klasik, kepulangannya ke La Bombonera disambut meriah oleh fans Boca yang
mengelu-elukan sang pahlawan. Dan dimasa peminjaman itu Riquelme berhasil
membawa Boca kembali menjuarai Copa Libertadores
dan berhak menjadi wakil Amerika Selatan yang berlaga di Piala Dunia Antar
Klub. Namun sayang ketidakjelasan status Riquelme membuat dia tak bisa berlaga
pada turnamen itu. Boca ingin mempermanenkan Riquelme namun tidak terjadi
kesepakatan harga dengan Villareal, maka itu nama Riquelme tidak bisa
didaftarkan di awal turnamen itu. Pada akhirnya Boca menyerah dari wakil Eropa Milan dengan skor 4-2 tanpa diperkuat Riquelme sebagai
pengatur serangan. Namun pada akhir masa transfer windows Villareal bersedia melepas Riquelme ke Boca Jr, keputusan yang sudah terlambat dan
merugikan Boca Jr. Bersama itu tamatlah karir seorang Riquelme ditanah eropa,
meskipun dia masih 29tahun saat itu, usia emas seorang pemain sepakbola masa
puncak. Namun Riquelme sendiri tak menyesali keputusanya itu. Hanya satu
penyesalanya saat di Eropa dia tidak bergabung dengan Manchester
United. Berdasar pengakuan dia baru-baru ini ketika masih bermain untuk
Villareal dia mengaku didatangi pelatih MU Sir Alex
Ferguson saat dihotel Inggris menjelang laga semifinal di Liga Champions melawan Arsenal.
Fergie mungkin kepincut talenta hebat Riquelme
yang sebelumnya juga sanggup menghentikan langkah Iblis Merah (julukan MU) di
kompetisi itu. Namun Riquelme menolak karena sudah betah di Villareal, tetapi mungkin
dia menilai keputusanya itu tidak tepat karena setelah itu dia malah sering
dicadangkan. Itu mungkin menjadi alasan penyesalan Riquelme dan menjadikan dia
pulang ke Argentina lebih dini.
Selain
MU Riquelme juga sempat dikaitkan dengan Real Madrid,
ketika playmaker mereka Zinedine Zidane akan pensiun seusai Piala Dunia 2006
Germany. Zidane sendiri yang meminta klubnya
supaya membeli Riquelme dari Villareal. Mungkin Zidane menilai kualitas
Riquelme cocok untuk menggantikan dia di Madrid. Namun saat masih rumor
Riquelme membantah dia akan bergabung dengan Madrid. Mungkin karena dia pernah
berseragam Barca dan akan sulit bila dia bergabung dengan Madrid nantinya,
seperti yang pernah dialami Luis Figo dia menerima perlakuan tidak enak saat
duel El Clasico. Pernyataan resmi dari Riquelme
sendiri dengan rendah hati dia menilai dia hanya pemain biasa dan tidak suka
dengan kata Galactico ( merujuk pada julukan Los Galacticos project
presiden Madrid Florentino Perez yang mengumpulkan para mega bintang dari
berbagai Negara seperti Ronaldo Brazil, Zidane,
Figo, Beckham, Owen).
Turnamen
internasional kembali lagi menyeruak kali ini Copa
Amerika 2007 Argentina dengan nahkoda baru lagi setelah Pekerman AFA
menunjuk pelatih Alfio Basile. Pelatih kali
ini masih sama seperti pendahulunya, dia percaya kepada kemampuan Riquelme sebagai playmaker Argentina walaupun
Timnas belum berprestasi lagi. Namun sangat disayangkan, lagi-lagi Argentina
harus takluk kembali dengan musuh bebuyutanya rival
abadi Brazil dengan skor 3-0 di partai puncak. Jelas kondisi ini sangat
tidak mengenakkan bagi semua pendukung begitupun pemain. Pada turnamen ini
Riquelme dalam urusan mencetak gol hanya kalah dari pemain Brazil Robinho dan pada turnamen sebelumnya ia juga
kalah dari striker Brazil lainya Adriano. Mengingat posisi dia
sebagai pemain tengah dan peran sebagai playmaker tentu itu adalah hal yang termasuk
melebihi yang seharusnya dilakukan pemain normal dengan posisi yang sama. Meskipun
Argentina selalu bermain impresif saat mengikuti turnamen mereka selalu kurang
beruntung di partai Final. Serta pelatih yang kurang perhitungan selalu menjadi
kendala
.
Dan
turnamen terakhir yang diikuti Riquelme
bukanlah turnamen resmi dari FIFA melainkan hanya Olimpiade
U-23 Beijing 2008. Pelatih tim olimpiade Argentina U20 Sergio Batista mempercayakan Riquelme sebagai kapten dan membimbing pemain muda
Argentina seperti Messi, Aguero, Di Maria, Lavezzi,
Banega, Zabaleta, Garay, dan Romero yang kelak menjadi pemain inti Timnas
Argentina Senior pada turnamen-turnamen mayor. Pada turnamen terakhirnya
ini Riquelme berhasil membantu Argentina mempertahankan Medali olimpiade
berturut-turut setelah Olimpiade 2004 Athena.
Dan setelah ini dia tidak pernah lagi terlihat bersama tim Tango pada
turnamen-turnamen mayor selanjutnya.
Di akhir kualifikasi Piala Dunia 2010 dia
berselisih dengan pelatih Maradona sehingga
memilih mundur dari timnas, Argentina hampir tidak lolos, namun akhirnya melaju
ke Piala Dunia 2010 South Africa otomatis secara dramatis. Setelah awal yang
meyakinkan Argentina harus terhenti menyakitkan akibat dibantai musuh bebuyutan Jerman dengan skor 4-0 di perempat
final. Sesungguhnya
2010 ini adalah awal bagi Argentina untuk berprestasi karena seteru mereka
Brazil mulai menurun dan regenerasi yang kurang berkualitas namun Maradona
dengan keegoisannya tidak mau mengikutkan pemain-pemain berpengalaman seperti
Riquelme dan Zanetti berhujung kegagalan. 
Kemudian Copa Amerika 2011
dengan pelatih Sergio Batista Argentina
tidak memakai Riquelme lagi hanya sanggup melaju di semi-final setelah
dikalahkan Uruguay lewat drama adu pinalti
yang akhirnya menjadi juara di Turnamen itu bersama Forlan
dan Suarez cs. Di Piala Dunia 2014 Brazil
adalah pencapaian tertinggi bersama pelatih Alejandro
Sabella Messi cs berhasil melaju hingga final menghadapi musuh lamanya
Jerman sekaligus partai ulangan final Piala Dunia
1990 Italy saat maradona masih
bermain dan yang mereka lawan masih bernama Jerman
Barat. Lagi-lagi Argentina harus tertunduk sampai babak Extra time kedua
lewat gol kemenangan Jerman yang dibukukan pemain pengganti Mario Goetze. Sekaligus menegaskan dominasi Jerman atas Argentina di pentas sepakbola
terakbar 4 tahunan tersebut dengan rekor 3 kali bertemu 3 kemenangan diraih. Namun
yang patut diperhatikan ke 3 kekalahan itu semuanya ketika Argentina tidak
diperkuat playmaker jenius mereka Riquelme, perlu diingat saat pertemuan di Piala
Dunia 2006 saat Riquelme ada Argentina sanggup unggul selama 78 menit. Dan tanpa
dia Argentina selalu kalah. Itulah kesalahan setiap pelatih Argentina tidak
menyertakan dirinya. Padahal Riquelme bisa menjadi kunci kesuksesan Argentina
dengan umpan-umpan ajaibnya yang terukur, sebagai pengatur serangan handal,
pendistribusi bola lapangan tengah, pengambil situasi bola mati yang ahli (
tendangan bebas dan sepak pojok ) yang bisa dimanfaatkan pemain lain untuk
dijadikan gol kemenangan. Sayang sekali para pelatih tak pernah menyadari bakat
dan talenta yang luar biasa dan sangat langka itu. Meraka malah hanya
bergantung pada super star Barcelona Lionel Messi, walaupun dia hebat namun
kemampuan playmaker murni tidak ada dalam dirinya. Jika diingat lagi Riquelme
sanggup membimbing meraka (pemain muda Argentina) menjuarai olimpiade U20 maka
kenapa dia tidak diikutkan lagi. Peluang juara akan semakin besar walau usia
Riquelme sudah menginjak 35 tahun namun kualitasnya masih sanggup bermain di
Turnamen besar. Di Copa America 2015
terakhir Riquelme sudah pensiun, Argentina melaju ke final dengan menghadapi Chile dan kalah dari alexis
Sanchez cs.
Pada laga sebelumnya salah satu pemain tim Tango Angel Di Maria menyatakkan Argentina butuh pemain
seperti Crespo dan Batistuta, merujuk pada
striker legendaris tim Tango yang merupakan striker murni dan sangat berbahaya
di kotak pinalti lawan karena insting dan finishing yang baik, serta handal
dalam bola-bola atas karena ditunjang postur yang tinggi untuk ukuran pemain
Argentina. Namun
menurutku itu masih kurang jika tidak ada penyuplai bola sekelas Riquelme
dilapangan tengah. Kehadiran striker murni dan playmaker klasik akan membuat
tim menjadi sempurna. Dan faktor lain yang kurang aku sukai formasi yang
diterapkan tim Tango selalu 4-3-3 dengan 3 penyerang, aku lebih suka dengan
gaya formasi Pekerman 4-4-2 dengan 2 penyerang dan satu playmaker murni.
Terbukti dengan pemain yang pas-pasan Pekerman bisa mengangkat performa
Kolombia.
Di
Boca Jr Riquelme bukannya tanpa masalah
dimusim 2012 dia berseteru dengan pelatih Falconi
karena gaya bermainya yang pragmatis, Riquelme berkata Falconi membuatnya seperti
orang bodoh, sehingga dia sempat tidak dimainkan selama 7bulan. Dia
juga sempat menyatakan ingin hengkang dari klub yang telah dia bela selama 2
periode itu. Alasanya karena kekalahan Boca dari
Corintians di final Copa Libertadores membuat dia kecewa. Riquelme
mengaku sudah tidak bisa memberikan kontribusi apapun lagi untuk Boca. Sudah
tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk klub dia berkata. Namun para
pendukung dan pemilik Boca Jr tidak ingin pemain kesayangannya itu pergi ke tim
lain, gelombang protes dan dukungan untuk mempertahankan Riquelme pecah di
berbagai tempat di Buenos Aires. Pihak klub menunjuk pelatih baru Carlos Bianchi
untuk membujuknya kembali bergabung ke Boca. Awalnya Riquelme sudah berniat
hengkang namun akhirnya dia bersedia bergabung untuk ke 3 kalinya ke boca pada
awal musim 2013. Riquelme mengklaim nomer 10 di
Boca Jr itu adalah Miliknya, ketika ada seorang pemain yang sanggup
memenangkan Copa Libertadores lebih dari 3 kali barulah dia boleh memakai nomer
itu, Riquelme sesumbar(namun pada akhirnya di tahun 2015 Carlos Tevez si anak
hilang yang juga sempat membela Boca Jr sebelum berpetualang ke eropa pulang
dari Juventus dia mengenakan nomer 10 yang ditinggalkan pemiliknya itu).
Hanya
satu musim dia bertahan di Boca Jr sampai awal 2014 dia memutuskan pindah ke
klub masa kecilnya Argentinos Jr. Misinya
kali ini adalah membantu Argentinos Jr promosi
ke kasta tertinggi Liga Argentina Primera Division
dan dia berhasil membawa tim itu naik dari kasta ke dua liga Argentina. Setelah
berhasil menuntaskan misinya banyak tawaran yang menghampirinya dari berbagai Negara
tetangga salah satunya yang santer adalah klub asal Paraguay
Cerro Porteno. Klub itu kabarnya akan menjadikan Riquelme pemain dengan
gaji tertinggi di liga Paraguay, namun akhirnya
Riquelme memutuskan berhenti sebagai pemain sepakbola setelah 18 tahun
berkarir. Bunyi pernyataanya perpisahanya kurang lebih seperti ini : “Saya memutuskan
untuk tidak lagi bermain sepakbola. Sekarang saya hanyalah supporter. Saya akan
datang ke tribun dan akan ikut menderita bersama yang lainya. Saya Puas dengan
karir saya. Saya menikmati sepakbola sampai ke level teratas. Semoga
orang-orang juga menikmatinya sama halnya seperti saya. Sungguh saya menjalani
masa-masa yang menyenangkan. Saya selalu memberikan yang terbaik untuk para
penggemar Boca, Argentina, Barcelona, dan Villareal baik di tim junior maupun
tim senior. Saya adalah seorang yang mengambil keputusan dengan tenang, dan
berpikir dalam. Sudah jelas saya akan berlibur dan bersenang-senang dan
menikmati setiap waktu bersama anak-anak saya. Mulai saat ini kehidupan
sepakbola saya sudah berakhir, dan kehidupan baru saya dimulai. Kita lihat saja
seperti apa kehidupan baru ini. Hari dimana saya tidak lagi bermain sepakbola
adalah hari dimana saya pergi untuk minum the dengan ibu saya.” Riquelme
sendiri mengaku bangga bisa memperkuat Boca Jr karena orangtuanya merupakan supporter
dari Boca Jr.
Dan
ketika Argentina masih mencari gelar yang tak kunjung didapat, Riquelme sudah
memiliki kehidupan barunya. Namanya mungkin akan hilang begitu saja karena
bintang sepakbola semakin hari semakin bertambah banyak. Akan tetapi para
pecinta sepakbola sejati terutama penggemar Argentina tidak akan melupakan “si
penyihir malas” begitu saja. Di tengah perubahan zaman dia seolah melawan tren
dengan tetap bertahan dengan gaya sepakbola yang pertama kali dia kenal. Bagi dia
bermain sepakbola adalah tentang kesenangan.
Jujur untuk saat ini dan seterusnya mungin belum ada yang akan bisa
menyamai kemampuan playmaker Riquelme. Kelebihan dia adalah teknik tinggi dan menurutku
hanya ada 2 pemain yang menyamainya selama aku menonton sepakbola yaitu Zidane
dan Ronaldinho, passing yang akurat lihatlah di youtube dia selalu memudahkan
rekan mencetak gol dari berbagai situasi open play maupun set-piece serta free
kick dia yang bisa membuat kiper lawan melongo mungkin pirlo dan xavi masih
dibawahnya untuk urusan ini, visi nya membaca pertandingan. Gerakkan-gerakan
disertai teknik mengagumkan dalam melewati pemain lawan itu jugaa hanya bisa
dibandingkan dengan Zidane dan Ronaldinho, gerakan-gerakan yang tidak pernah
diajarkan disekolah sepakbola manapun. Walaupun Riquelme masih kalah dalam
jumlah trofi untuk klub maupun Negara dari ke empatnya namun kualitasnya hanya
sedikit dibawah Zidane. Orang seperti Riquelme dan Batistuta bisa saja
memenagkan gelar apapun yang ada, jika mereka mau bergabung dengan tim-tim
besar. Namun meraka memiliki prinsip sendiri didalam menjalani karir, mereka
tak pernah menerima tawaran-tawaran yang datang. Merka lebih suka membela
tim-tim yang tidak diisi banyak bintang namun merkalah yang akan mengangkat tim
itu dengan kemampuan mereka. Kalau ada tantanga bisakah ronaldo dan messi berhasil
bila memperkuat tim menengah? Belum tentu, namun Riquelme dan Batistuta sudah
membuktikan walau mereka tak bisa membawa prestasi tertinggi. Namun itu sudah
merupakan pencapaian luar biasa. Adakah pemain bintang yang tidak tertarik
memperkuat tim besar? Mungkin tidak ada kecuali hanya Riquelme dan Batistuta.
Kini
di tengah sepakbola modern lebih pragmatis dengan mementingkan hasil, serta
mengabaikan etika dan sisi hiburan. Sepakbola berubah menjadi hanya menjalankan
bisnis dan kualitasnya tak sebagus dulu. Semua hanya tentang kemenangan dan
piala namun dengan cara yang kadang tidak seharusnya. Tak ada lagi pemain
dengan skill dan teknik diperagakan diatas lapanagan seperti yang yang
dilakukan Zidane Ronaldinho dan Riquelme yang begitu menghibur dan membuat
penonton berdecak kagum, bagaimana mereka bisa melakukan itu? Yang ada hanya
pemain yang berlomba-lomba membuat banyak gol an dia bisa memperoleh
penghargaan sebagai pemain terbaik dunia.
Beruntung
generasi yang pernah menonton aksi-aksi era Riquelme dan playmaker klasik
lainya. Rasanya akan sulit menjelaskan pada generasi mendatang betapa bagus dan hebatnya pemain-pemain semacam Riquelme ataupun Batistuta, karena tak akan ada lagi tipe pemain seperti itu lagi mungkin untuk
waktu yang lama. Terima kasih Riquelme atas
segala yang pernah kau lakukan di sepabola. Kini sang
playmaker klasik terakhir sudah berhenti menghibur penggemarnya. Dan
dia sudah memutuskan untuk memulai hidup barunya. Selamat menikmati masa
istirahatmu Roman! Vamos La Albiceleste














Izin share ya,saya seorang tango lovers dan Juan Roman Riquelme ini adalah pemain idola saya,postingannya sangat menarik.. (Y)
BalasHapus