Minggu, 03 Januari 2016

Kisah Seorang Yang Ditakdirkan Menjadi Playmaker Klasik Terakhir Didunia


Dia tinggi, wajahnya selalu murung ketika memasuki lapangan menjelang pertandingan, banyak pihak yang mengkritik gaya bermainya yang lambat dan malas bergerak. Namun ketika bola sudah berada dalam penguasaanya akan sulit untuk pemain lawan merebutnya. Dia membungkam para pengkritik dengan aksi-aksi menawan dan juga umpan-umpan dekat maupun jauh dengan presisi dan keakuratan tinggi. Tak jarang dia juga membuat gerakan-gerakan yang membuat penonton berdecak kagum dengan teknik yang dia miliki. Konon gerakan itu tidak diajarkan disekolah sepakbola manapun ataupun di sekolah sihir. Dia mempelajarinya sendiri di jalan-jalan di tanah kelahiranya sejak masih kecil (sampai sini lupa artikelnya aku cari lagi gak ketemu-ketemu :ngakaks: )








Dia adalah Juan Roman Riquelme ( bacanya Huan Roman Riqelme! ) banyak yang ingin kutulis mengenai dirinya. Berposisi sebagai pemain tengah dia berperan sebagai playmaker. Bukan sembarang playmaker dia adalah seorang playmaker classic no.10 yang terakhir mungkin, karena setelah dia tidak ada lagi pemain bertipikal seperti dia. Dulu di era 80-90an banyak playmaker klasik terlahir seperti Maradona, Roberto Baggio, Michel Platini, Ruud Gullit, Lothar Matheaus, Enzo Francescoli, Valderama, George Hagi dan tentu saja Zinedine Zidane. Mereka bermain lebih mengandalkan teknik tinggi dan kecerdasan, visi yang baik, drible mumpuni, operan-operan yang jitu dan kemampuan mencetak gol yang harus baik juga, serta sebagai free kick ataupun set-piece taker yaitu pengambil tendangan pada situasi dead ball/bola mati.

Pun Riquelme dia memiliki itu semua juga, para kalangan menyebut Riquelme semestinya bermain di era 90an dan dia sanggup menjadi pemain terbaik dunia setiap tahunnya, karena di era modern sekarang ini peran playmaker classic sudah ditinggalkan. Pelatih revolusioner semacam Van Gaal, Mourinho, Marcelo Bielsa dan Pep Guardiola sudah pasti tak akan membutuhkan pemain semacam Riquelme. Karna mereka lebih memilih pemain yang banyak bergerak sedangkan Riquelme adalah pemain yang hanya menunggu bola diberikan kepadanya, serta tidak berkewajiban membantu pertahanan. Dia tersisihkan dan terbuang dari petualangannya di Eropa karena iklim sepak bola yang berubah, para pelatih tidak meminati lagi jasa playmaker klasik dan memang hanya tersisa dia saja setelah Zinedine Zidane.

Bersama Boca Jr ia meraih berbagai presatasi apertura clausura liga Argentina, hingga membawa Boca Jr menjuarai Copa Libertadores dan bertarung di Piala Intercontinental melawan Juara Liga Champions Eropa Real Madrid. Boca Jr pun memenangi kejuaraan tersebut dengan skor 1-0 berkat Martin Palermo dan Riquelme, bayangkan tim dari Argentina yang hanya bermaterikan pemain lokal saja sanggup mengalahkan kekuatan tim eropa dengan dukungan pemain-pemain terbaik dari berbagai Negara? Sungguh pencapaian yang luar biasa. Di tahun berikutnya Boca berhasil menjuarai Copa Libertadores lagi namun sayang mereka kalah di Piala Intercontinental melawan Bayern Munchen. Tak banyak tim yang mampu ke final Piala Intercontinental berturut-turut.











Usai kegemilanganya bersama Boca klub Spanyol Barcelona kepincut merekrut pemain berjuluk “si penyihir malas” ini pada musim 2002/03. Namun pelatih Barca saat itu van Gaal menyebut pembelian Riquelme sebagai bagian dari politik. Sang meneer kurang sreg dengan gaya main riquelme yang klasik. Dia jarang menurunkan Riquelme sebagai starter, sekali dimainkan Riquelme diposisikan menjadi winger, posisi yang sangat asing baginya. Mungkin sang meneer ingin dia lebih banyak bergerak dan berlari dengan memplot dia sebagai sayap. Bermain bukan pada posisinya membuat Riquelme tidak berkembang.





Di timnas Argentina pelatih saat itu Marcelo Bielsa meninggalkanya untuk berlaga di pentas Piala Dunia 2002 Korea-Japan yang seharusnya menjadi Piala Dunia pertama bagi Riquelme. Bielsa kurang menyukai gaya bermainya yang lambat dan lebih memilih playmaker Lazio Juan Sebastian Veron, Argentina akhirnya gagal total di turnamen itu karena tidak lolos dari fase grup yang merupakan prestasi terburuk.


Setelah itu Riquelme dipinjamkan ke Villareal mulai musim 2003 dan disini Riquelme mulai menemulkan bentuk permainanya dibawah asuhan pelatih Manuel Pelegrini yang berasal dari Chile serta pemain-pemain yang berasal dari Amerika Selatan seperti Diego Forlan dari Uruguay dan kompatriotnya sendiri Juan Pablo Sorin dari Argentina membuat adaptasi di Villareal menjadi mudah. Bersama tim ini Riquelme sanggup memberikan 2 trofi Piala Intertoto ( turnamen tingkat 3 setelah Liga Champions dan UEFA Cup). Dan puncaknya membawa Villareal ke fase Perempat-final Liga Champions setelah menyingkirkan Manchester United dan Inter Milan, namun terhenti melawan Arsenal dimana dia gagal mengeksekusi hukuman pinalti yang berpeluang membawa Villareal ke final melawan Barcelona (mantan timnya), di musim 2005/06.






Pada turnamen internasional selanjutnya Argentina memiliki nahkoda baru, dialah Jose Pakerman. Sosok yang tidak asing bagi Riquelme, dialah pelatih tim muda Argentina U-20 yang menjuarai Piala Dunia U-20 di Malaysia dan Riquelme menjadi bagian bersama Walter Samuel, Esteban Cambiasso dll. Yang pertama Copa America 2004 Argentina sampai difinal namun dikalahkan Brazil lewat adu pinalti 4-2 skor saat pertandingan normal 2-2. Kemudian pada piala Konfederasi 2005 mereka bertemu lagi di final, lagi-lagi Riquelme harus menaggung malu karena dikalahkan Ronaldinho cs dengan skor mencolok 4-1. Memang Skuad Argentina kala itu masih kurang pemain top dibanding Brazil yang saat itu masih dihuni generasi emas seperti Ronaldinho, Dida, Lucio, Gilberto Silva, Ze Roberto, Roberto Carlos, Cafu, Adriano, Ronaldo yang semua bermain di tim Elit eropa.









Selanjutnya Piala Dunia 2006 akhirnya menjadi Piala Dunia pertama dan terakhir Riquelme karena setelah ini Riquelme bermasalah dengan pelatih tim tango seperti di Piala Dunia 2010 dia berseteru dengan Maradona, dan di Piala Dunia 2014 dia tidak dipanggil oleh pelatih Alejandro Sabella. Sayang sebenarnya melewatkan talenta langka milik Riquelme. Di Piala Dunia Germany Riquelme hanya sanggup membawa Argentina ke fase pererempat final saat menghadapi tuan rumah Jerman. Dengan formasi andalan 4-4-2 (4-1-3-2) ala Perkerman Argentina sebenarnya mampu unggul dahulu lewat gol dari pemain belakang Roberto Ayala memanfaatkan Corner Kick Riquelme dari sisi kanan lapangan 1-0 bertahan hingga menit 78. Suatu blunder yang dilakukan Pekerman dengan menarik Riquelme disaat tim masih unggul diganti dengan cambiasso pemain yang lebih bertahan mungkin maksud Pekermen untuk mempertahankan keunggulan namun berakhir fatal.



Dan 8 menit setelah Riquelme ditarik Jerman berhasil menyamakan kedudukan lewat sendulan Miroslav Klose pada menit 79. Praktis Argentina hanya mampu main bertahan karena tidak ada pemain yang mendistribusikan bola sebaik Riquelme, kreativitasnya mati. Selain itu Pekerman juga tidak menurunkan pemain belia Lionel Messi, mungkin bila Riquelme tidak ditarik dan Pekerman memasukkan Messi hasil akhir berpihak pada Argentina. Akhirnya Argentina kalah setelah adu pinalti namun banyak kontroversi dan kecurangan di laga itu mengingat Jerman adalah tuan rumah. Kiprah Riquelme harus terhenti disitu.





Banyak kalangan menilai Piala Dunia ini adalah penampilan terbaik Argentina selama berkiprah di turnamen tersebut mengalahkan penampilan di Piala Dunia 1986 ketika mereka juara. Argentina dibawah Pekerman dan Riquelme memainkan gaya bermain yang taktis dan sangat enak dilihat dengan skema serangan yang bertumpu pada Riquelme yang sanggup memainkan tempo pertandingan, dia bisa bermain dengan cepat ketika menerima umpan dan mengoper secara akurat baik umpan pendek maupun umpan atas jauh. Selain itu Riquelme juga menjadi Top Assist di turnamen tersebut mengalahkan playmaker Brazil Ronaldinho dan playmaker France Zinedine Zidane dgn catatan 6 assist.





















Setelah piala dunia karirnya di Villareal bukan bertambah baik malah menjadi buruk. Dia jarang dimainkan lagi, isu yang beredar Riquelme bersitegang dengan pelatih Manuel Pellegrini karena menuntut kebebasan dan meminta perlakuan istimewa.





Akhirnya di musim 2007 dia dipinjamkan ke klub yang membesarkan namanya Boca Jr untuk setengah musim. Di klub ini Riquelme kembali bangkit dan sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai playmaker jempolan. Di tanah kelahiranya masih banyak klub yang memainkan peran playamaker klasik, kepulangannya ke La Bombonera disambut meriah oleh fans Boca yang mengelu-elukan sang pahlawan. Dan dimasa peminjaman itu Riquelme berhasil membawa Boca kembali menjuarai Copa Libertadores dan berhak menjadi wakil Amerika Selatan yang berlaga di Piala Dunia Antar Klub. Namun sayang ketidakjelasan status Riquelme membuat dia tak bisa berlaga pada turnamen itu. Boca ingin mempermanenkan Riquelme namun tidak terjadi kesepakatan harga dengan Villareal, maka itu nama Riquelme tidak bisa didaftarkan di awal turnamen itu. Pada akhirnya Boca menyerah dari wakil Eropa Milan dengan skor 4-2 tanpa diperkuat Riquelme sebagai pengatur serangan. Namun pada akhir masa transfer windows Villareal bersedia melepas Riquelme ke Boca Jr, keputusan yang sudah terlambat dan merugikan Boca Jr. Bersama itu tamatlah karir seorang Riquelme ditanah eropa, meskipun dia masih 29tahun saat itu, usia emas seorang pemain sepakbola masa puncak. Namun Riquelme sendiri tak menyesali keputusanya itu. Hanya satu penyesalanya saat di Eropa dia tidak bergabung dengan Manchester United. Berdasar pengakuan dia baru-baru ini ketika masih bermain untuk Villareal dia mengaku didatangi pelatih MU Sir Alex Ferguson saat dihotel Inggris menjelang laga semifinal di Liga Champions melawan Arsenal. Fergie mungkin kepincut talenta hebat Riquelme yang sebelumnya juga sanggup menghentikan langkah Iblis Merah (julukan MU) di kompetisi itu. Namun Riquelme menolak karena sudah betah di Villareal, tetapi mungkin dia menilai keputusanya itu tidak tepat karena setelah itu dia malah sering dicadangkan. Itu mungkin menjadi alasan penyesalan Riquelme dan menjadikan dia pulang ke Argentina lebih dini.




Selain MU Riquelme juga sempat dikaitkan dengan Real Madrid, ketika playmaker mereka Zinedine Zidane akan pensiun seusai Piala Dunia 2006 Germany. Zidane sendiri yang meminta klubnya supaya membeli Riquelme dari Villareal. Mungkin Zidane menilai kualitas Riquelme cocok untuk menggantikan dia di Madrid. Namun saat masih rumor Riquelme membantah dia akan bergabung dengan Madrid. Mungkin karena dia pernah berseragam Barca dan akan sulit bila dia bergabung dengan Madrid nantinya, seperti yang pernah dialami Luis Figo dia menerima perlakuan tidak enak saat duel El Clasico. Pernyataan resmi dari Riquelme sendiri dengan rendah hati dia menilai dia hanya pemain biasa dan tidak suka dengan kata Galactico ( merujuk pada julukan Los Galacticos project presiden Madrid Florentino Perez yang mengumpulkan para mega bintang dari berbagai Negara seperti Ronaldo Brazil, Zidane, Figo, Beckham, Owen).









Turnamen internasional kembali lagi menyeruak kali ini Copa Amerika 2007 Argentina dengan nahkoda baru lagi setelah Pekerman AFA menunjuk pelatih Alfio Basile. Pelatih kali ini masih sama seperti pendahulunya, dia percaya kepada kemampuan Riquelme sebagai playmaker Argentina walaupun Timnas belum berprestasi lagi. Namun sangat disayangkan, lagi-lagi Argentina harus takluk kembali dengan musuh bebuyutanya rival abadi Brazil dengan skor 3-0 di partai puncak. Jelas kondisi ini sangat tidak mengenakkan bagi semua pendukung begitupun pemain. Pada turnamen ini Riquelme dalam urusan mencetak gol hanya kalah dari pemain Brazil Robinho dan pada turnamen sebelumnya ia juga kalah dari striker Brazil lainya Adriano. Mengingat posisi dia sebagai pemain tengah dan peran sebagai playmaker tentu itu adalah hal yang termasuk melebihi yang seharusnya dilakukan pemain normal dengan posisi yang sama. Meskipun Argentina selalu bermain impresif saat mengikuti turnamen mereka selalu kurang beruntung di partai Final. Serta pelatih yang kurang perhitungan selalu menjadi kendala


.

Dan turnamen terakhir yang diikuti Riquelme bukanlah turnamen resmi dari FIFA melainkan hanya Olimpiade U-23 Beijing 2008. Pelatih tim olimpiade Argentina U20 Sergio Batista mempercayakan Riquelme sebagai kapten dan membimbing pemain muda Argentina seperti Messi, Aguero, Di Maria, Lavezzi, Banega, Zabaleta, Garay, dan Romero yang kelak menjadi pemain inti Timnas Argentina Senior pada turnamen-turnamen mayor. Pada turnamen terakhirnya ini Riquelme berhasil membantu Argentina mempertahankan Medali olimpiade berturut-turut setelah Olimpiade 2004 Athena. Dan setelah ini dia tidak pernah lagi terlihat bersama tim Tango pada turnamen-turnamen mayor selanjutnya.




Di akhir kualifikasi Piala Dunia 2010 dia berselisih dengan pelatih Maradona sehingga memilih mundur dari timnas, Argentina hampir tidak lolos, namun akhirnya melaju ke Piala Dunia 2010 South Africa otomatis secara dramatis. Setelah awal yang meyakinkan Argentina harus terhenti menyakitkan akibat dibantai musuh bebuyutan Jerman dengan skor 4-0 di perempat final. Sesungguhnya 2010 ini adalah awal bagi Argentina untuk berprestasi karena seteru mereka Brazil mulai menurun dan regenerasi yang kurang berkualitas namun Maradona dengan keegoisannya tidak mau mengikutkan pemain-pemain berpengalaman seperti Riquelme dan Zanetti berhujung kegagalan.









Kemudian  Copa Amerika 2011 dengan pelatih Sergio Batista Argentina tidak memakai Riquelme lagi hanya sanggup melaju di semi-final setelah dikalahkan Uruguay lewat drama adu pinalti yang akhirnya menjadi juara di Turnamen itu bersama Forlan dan Suarez cs. Di Piala Dunia 2014 Brazil adalah pencapaian tertinggi bersama pelatih Alejandro Sabella Messi cs berhasil melaju hingga final menghadapi musuh lamanya Jerman sekaligus partai ulangan final Piala Dunia 1990 Italy saat maradona masih bermain dan yang mereka lawan masih bernama Jerman Barat. Lagi-lagi Argentina harus tertunduk sampai babak Extra time kedua lewat gol kemenangan Jerman yang dibukukan pemain pengganti Mario Goetze. Sekaligus menegaskan dominasi Jerman atas Argentina di pentas sepakbola terakbar 4 tahunan tersebut dengan rekor 3 kali bertemu 3 kemenangan diraih. Namun yang patut diperhatikan ke 3 kekalahan itu semuanya ketika Argentina tidak diperkuat playmaker jenius mereka Riquelme, perlu diingat saat pertemuan di Piala Dunia 2006 saat Riquelme ada Argentina sanggup unggul selama 78 menit. Dan tanpa dia Argentina selalu kalah. Itulah kesalahan setiap pelatih Argentina tidak menyertakan dirinya. Padahal Riquelme bisa menjadi kunci kesuksesan Argentina dengan umpan-umpan ajaibnya yang terukur, sebagai pengatur serangan handal, pendistribusi bola lapangan tengah, pengambil situasi bola mati yang ahli ( tendangan bebas dan sepak pojok ) yang bisa dimanfaatkan pemain lain untuk dijadikan gol kemenangan. Sayang sekali para pelatih tak pernah menyadari bakat dan talenta yang luar biasa dan sangat langka itu. Meraka malah hanya bergantung pada super star Barcelona Lionel Messi, walaupun dia hebat namun kemampuan playmaker murni tidak ada dalam dirinya. Jika diingat lagi Riquelme sanggup membimbing meraka (pemain muda Argentina) menjuarai olimpiade U20 maka kenapa dia tidak diikutkan lagi. Peluang juara akan semakin besar walau usia Riquelme sudah menginjak 35 tahun namun kualitasnya masih sanggup bermain di Turnamen besar. Di Copa America 2015 terakhir Riquelme sudah pensiun, Argentina melaju ke final dengan menghadapi Chile dan kalah dari alexis Sanchez cs.


Pada laga sebelumnya salah satu pemain tim Tango Angel Di Maria menyatakkan Argentina butuh pemain seperti Crespo dan Batistuta, merujuk pada striker legendaris tim Tango yang merupakan striker murni dan sangat berbahaya di kotak pinalti lawan karena insting dan finishing yang baik, serta handal dalam bola-bola atas karena ditunjang postur yang tinggi untuk ukuran pemain Argentina. Namun menurutku itu masih kurang jika tidak ada penyuplai bola sekelas Riquelme dilapangan tengah. Kehadiran striker murni dan playmaker klasik akan membuat tim menjadi sempurna. Dan faktor lain yang kurang aku sukai formasi yang diterapkan tim Tango selalu 4-3-3 dengan 3 penyerang, aku lebih suka dengan gaya formasi Pekerman 4-4-2 dengan 2 penyerang dan satu playmaker murni. Terbukti dengan pemain yang pas-pasan Pekerman bisa mengangkat performa Kolombia.

Di Boca Jr Riquelme bukannya tanpa masalah dimusim 2012 dia berseteru dengan pelatih Falconi karena gaya bermainya yang pragmatis, Riquelme berkata Falconi membuatnya seperti orang bodoh, sehingga dia sempat tidak dimainkan selama 7bulan. Dia juga sempat menyatakan ingin hengkang dari klub yang telah dia bela selama 2 periode itu. Alasanya karena kekalahan Boca dari Corintians di final Copa Libertadores membuat dia kecewa. Riquelme mengaku sudah tidak bisa memberikan kontribusi apapun lagi untuk Boca. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia berikan untuk klub dia berkata. Namun para pendukung dan pemilik Boca Jr tidak ingin pemain kesayangannya itu pergi ke tim lain, gelombang protes dan dukungan untuk mempertahankan Riquelme pecah di berbagai tempat di Buenos Aires. Pihak klub menunjuk pelatih baru Carlos Bianchi untuk membujuknya kembali bergabung ke Boca. Awalnya Riquelme sudah berniat hengkang namun akhirnya dia bersedia bergabung untuk ke 3 kalinya ke boca pada awal musim 2013. Riquelme mengklaim nomer 10 di Boca Jr itu adalah Miliknya, ketika ada seorang pemain yang sanggup memenangkan Copa Libertadores lebih dari 3 kali barulah dia boleh memakai nomer itu, Riquelme sesumbar(namun pada akhirnya di tahun 2015 Carlos Tevez si anak hilang yang juga sempat membela Boca Jr sebelum berpetualang ke eropa pulang dari Juventus dia mengenakan nomer 10 yang ditinggalkan pemiliknya itu).







Hanya satu musim dia bertahan di Boca Jr sampai awal 2014 dia memutuskan pindah ke klub masa kecilnya Argentinos Jr. Misinya kali ini adalah membantu Argentinos Jr promosi ke kasta tertinggi Liga Argentina Primera Division dan dia berhasil membawa tim itu naik dari kasta ke dua liga Argentina. Setelah berhasil menuntaskan misinya banyak tawaran yang menghampirinya dari berbagai Negara tetangga salah satunya yang santer adalah klub asal Paraguay Cerro Porteno. Klub itu kabarnya akan menjadikan Riquelme pemain dengan gaji tertinggi di liga Paraguay, namun akhirnya Riquelme memutuskan berhenti sebagai pemain sepakbola setelah 18 tahun berkarir. Bunyi pernyataanya perpisahanya kurang lebih seperti ini : “Saya memutuskan untuk tidak lagi bermain sepakbola. Sekarang saya hanyalah supporter. Saya akan datang ke tribun dan akan ikut menderita bersama yang lainya. Saya Puas dengan karir saya. Saya menikmati sepakbola sampai ke level teratas. Semoga orang-orang juga menikmatinya sama halnya seperti saya. Sungguh saya menjalani masa-masa yang menyenangkan. Saya selalu memberikan yang terbaik untuk para penggemar Boca, Argentina, Barcelona, dan Villareal baik di tim junior maupun tim senior. Saya adalah seorang yang mengambil keputusan dengan tenang, dan berpikir dalam. Sudah jelas saya akan berlibur dan bersenang-senang dan menikmati setiap waktu bersama anak-anak saya. Mulai saat ini kehidupan sepakbola saya sudah berakhir, dan kehidupan baru saya dimulai. Kita lihat saja seperti apa kehidupan baru ini. Hari dimana saya tidak lagi bermain sepakbola adalah hari dimana saya pergi untuk minum the dengan ibu saya.” Riquelme sendiri mengaku bangga bisa memperkuat Boca Jr karena orangtuanya merupakan supporter dari Boca Jr.



Dan ketika Argentina masih mencari gelar yang tak kunjung didapat, Riquelme sudah memiliki kehidupan barunya. Namanya mungkin akan hilang begitu saja karena bintang sepakbola semakin hari semakin bertambah banyak. Akan tetapi para pecinta sepakbola sejati terutama penggemar Argentina tidak akan melupakan “si penyihir malas” begitu saja. Di tengah perubahan zaman dia seolah melawan tren dengan tetap bertahan dengan gaya sepakbola yang pertama kali dia kenal. Bagi dia bermain sepakbola adalah tentang kesenangan.  Jujur untuk saat ini dan seterusnya mungin belum ada yang akan bisa menyamai kemampuan playmaker Riquelme. Kelebihan dia adalah teknik tinggi dan menurutku hanya ada 2 pemain yang menyamainya selama aku menonton sepakbola yaitu Zidane dan Ronaldinho, passing yang akurat lihatlah di youtube dia selalu memudahkan rekan mencetak gol dari berbagai situasi open play maupun set-piece serta free kick dia yang bisa membuat kiper lawan melongo mungkin pirlo dan xavi masih dibawahnya untuk urusan ini, visi nya membaca pertandingan. Gerakkan-gerakan disertai teknik mengagumkan dalam melewati pemain lawan itu jugaa hanya bisa dibandingkan dengan Zidane dan Ronaldinho, gerakan-gerakan yang tidak pernah diajarkan disekolah sepakbola manapun. Walaupun Riquelme masih kalah dalam jumlah trofi untuk klub maupun Negara dari ke empatnya namun kualitasnya hanya sedikit dibawah Zidane. Orang seperti Riquelme dan Batistuta bisa saja memenagkan gelar apapun yang ada, jika mereka mau bergabung dengan tim-tim besar. Namun meraka memiliki prinsip sendiri didalam menjalani karir, mereka tak pernah menerima tawaran-tawaran yang datang. Merka lebih suka membela tim-tim yang tidak diisi banyak bintang namun merkalah yang akan mengangkat tim itu dengan kemampuan mereka. Kalau ada tantanga bisakah ronaldo dan messi berhasil bila memperkuat tim menengah? Belum tentu, namun Riquelme dan Batistuta sudah membuktikan walau mereka tak bisa membawa prestasi tertinggi. Namun itu sudah merupakan pencapaian luar biasa. Adakah pemain bintang yang tidak tertarik memperkuat tim besar? Mungkin tidak ada kecuali hanya Riquelme dan Batistuta.




Kini di tengah sepakbola modern lebih pragmatis dengan mementingkan hasil, serta mengabaikan etika dan sisi hiburan. Sepakbola berubah menjadi hanya menjalankan bisnis dan kualitasnya tak sebagus dulu. Semua hanya tentang kemenangan dan piala namun dengan cara yang kadang tidak seharusnya. Tak ada lagi pemain dengan skill dan teknik diperagakan diatas lapanagan seperti yang yang dilakukan Zidane Ronaldinho dan Riquelme yang begitu menghibur dan membuat penonton berdecak kagum, bagaimana mereka bisa melakukan itu? Yang ada hanya pemain yang berlomba-lomba membuat banyak gol an dia bisa memperoleh penghargaan sebagai pemain terbaik dunia.


Beruntung generasi yang pernah menonton aksi-aksi era Riquelme dan playmaker klasik lainya. Rasanya akan sulit menjelaskan pada generasi mendatang betapa bagus dan hebatnya pemain-pemain semacam Riquelme ataupun Batistuta, karena tak akan ada lagi tipe pemain seperti itu lagi mungkin untuk waktu yang lama. Terima kasih Riquelme atas segala yang pernah kau lakukan di sepabola. Kini sang playmaker klasik terakhir sudah berhenti menghibur penggemarnya. Dan dia sudah memutuskan untuk memulai hidup barunya. Selamat menikmati masa istirahatmu Roman! Vamos La Albiceleste


1 komentar:

  1. Izin share ya,saya seorang tango lovers dan Juan Roman Riquelme ini adalah pemain idola saya,postingannya sangat menarik.. (Y)

    BalasHapus